JAKARTA - Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengungkapkan investor Malaysia menguasai sekitar 15-20 persen dari total lahan sawit di Indonesia yang total lahannya sekitar 7 juta hektar.
"Investor Malaysia juga terus berekspansi mengakuisisi lahan-lahan sawit investor lokal (eksisting) melalui mekanisme kerjasama. Sekarang ini luasan areal sawit 8 persen milik PTPN, 34 persen petani, Malaysia sekitar 15-20 persen," katanya yang ditemui disela-sela acara seminar sawit di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (15/7).
Dengan komposisi tersebut, berarti kepemilikan luasan lahan sawit oleh swasta lokal hanya berkisar sebesar 35 persen lebih dari total areal yang ada. Menurut Sahat fenomena ini, mengingatkan ia dengan pernyataan Mantan Presiden Soeharto soal kewaspadaan pengusaha lokal bidang persawitan dalam berbinis sawit terutama dalam bekerjasama dengan pihak asing.
"Itu yang disampaikan oleh Pak Harto ketika mengingatkan kehati-hatian dalam berpartner bidang persawitan. Saya masih ingat itu tahun 1992, akhirnya sekarang mulai terbukti," jelasnya.
Bahkan kata Sahat, seraya bercanda, cap negara produsen sawit terbesar di dunia yang ditampuk Indonesia bisa-bisa bergeser ke Malaysia. Hal ini jika dilihat dari sisi kepemilikan (owner) luasan lahan yang dimiliki Malaysia cukup diperhitungkan."Sekarang ini mereka membeli lahan-lahan sawit yang sudah ada atau eksisting," ucapnya.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Beny Nahdian Furqan mengungkapkan hal serupa bahwa bila bicara nasionalisme dalam bidang persawitan di Tanah Air, maka masyarakat harus melihat sejauhmana kepemilikan asing pada lahan sawit di Indonesia.
Sehingga kata dia, tudingan miring bagi LSM bidang lingkungan yang dicap tak nasionalis karena kerap 'membongkar' kasus kerusakan hutan dengan embel-embel kampanye hitam (black campaign) adalah tak tepat. "Kalau dia ambil di Malaysia bayar buruh lebih mahal, kalau di Indonesia lebih murah," kata Beny.
Tanaman asal Afrika ini masuk ke tanah air melalui kongsi dagang Belanda VOC, hampir 100 tahun lalu. Kebun-kebun kelapa sawit didirikan di Sumatra bagian utara, dan kawasan tersebut menjadi sentral perkebunan kelapa sawit Indonesia, hingga awal 1980-an.
Indonesia kini memiliki 7,5 juta hektar perkebunan kelapa sawit (Deptan -2009), dengan 40 persen diantaranya milik rakyat (Ditjenbun, 2009). Industri kelapa sawit nasional yang menempati 6 persen dari total hutan seluas 132 juta hektar, telah mensejahterakan jutaan rakyat Indonesia.
Adalah fakta, bahwa minyak sawit adalah satu-satunya komoditi non migas Indonesia yang menempati posisi strategis dalam percaturan minyak nabati dunia, mengingat Indonesia adalah penghasil terbesar komoditas ini.
Moratorium
Sementara kebijakan moratorium pengelolaan lahan gambut dan hutan alami telah bergulir. Oleh sebab itu, Kementerian Pertanian mengubah pola pengembangan kelapa sawit di Indonesia.
Menteri Pertanian, Suswono mengatakan fokus saat ini adalah meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit yang sudah ada. "Sekarang konsentrasinya ke situ, jadi belum berorientasi pada penambahan areal baru," ujar Suswono belum lama ini.
Sasarannya adalah perkebunan kelapa sawit rakyat. Menurut Suswono dari 7,9 juta hektare kebun kelapa sawit di Indonesia sekitar 41 persen atau lebih dari 3 juta adalah perkebunan rakyat.
Pengelolaan di perkebunan kelapa sawit rakyat, kata Suswono, umumnya kurang bagus. Selain itu, banyak pohon-pohon kelapa sawit yang sudah tua.Dia sudah meminta untuk melakukan penanaman kembali (replanting). "Kita baru mendata berapa persis yang harus replanting," terangnya.
Selain replanting, pemerintah juga membantu dengan subsidi pupuk serta memberi penyuluhan untuk pemeliharaannya.Tambahnya hingga kini produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat masih rendah, hanya 1,2 ton hingga 2 ton tandan buah segar (TBS) per hektare. Kondisi ini berbeda jauh dengan perkebunan milik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Perkebunan milik swasta mampu menghasilkan 6 ton sampai 7 ton TBS. Sedangkan, perusahaan kelapa sawit pelat merah bisa memproduksi 4 ton hingga 5 ton TBS.
