Welcome to PT. Perkebunan Nusantara XIII (Persero) As a Knowledge-Based Agribusiness Company
  DEPAN   KONTAK KAMI  PETA SITUS   
  Profil Perusahaan   Unit Kerja   Produk   Kinerja Komunitas   Penghargaan  
       
Citra Perkebunan Peduli Lingkungan
Sumber : Humas
Update : 19 Juli 2010, Jam : 07:35:16
Pontianak : Sebagai perusahaan agribisnis, PTPN XIII memiliki komitmen yang tinggi untuk dapat menghasilkan produk kelapa sawit maupun karet yang ramah lingkungan.

Perbaikan ke arah standar hijau terus dilakukan PTPN XIII, mulai dari kegiatan onfarm hingga offfarm. PTPN XIII telah mengeluarkan kebijakan bahwa untuk pembukaan lahan baru digunakan system zeroburn sehingga tidak terjadi pembakaran yang akan menimbulkan peningkatan CO2 maupun CO pada atmosfer.

Demikian pula, untuk peremajaan tanaman, digunakan system tumbang dan tidak membakar tonggak sisa tanaman tua yang akan diremajakan.

Terkait dengan limbah hasil pengolahan, PTPN XIII berupaya memanfaatkan limbah cair hasil buangan pabrik untuk mengairi lahan kelapa sawit. Sementara itu, limbah padat berupa tandan kosong dikembalikan lagi ke kebun sebagai bahan organik yang akan memperbaiki sifat fisik dan tingkat kesuburan lahan.

Terdorong oleh keinginan untuk secara langsung melakukan penghematan pemakaian bahan bakar fosil dalam operasional perusahaan dan mengalihkannya ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, PTPN XIII telah membangun 2 unit Prosesing Biodiesel kapasitas 6000 liter/hari di PMS Parindu (Kalbar) dan PMS Samuntai (Kaltim).

Unit Pengolahan Biodiesel tersebut sudah mampu memproduksi bahan bakar biodiesel dari limbah CPO atau CPO Drab Akhir.

Selain itu, kami telah melakukan Pilot project pemanfaatan biomass perkebunan sebagai substitusi BBM untuk pembangkit listrik (PLTD-Janggel) kapasitas 60 KVA berlokasi di lingkungan perumahan karyawan PTPN XIII Kebun Pelaihari Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta didukung oleh Kementerian Ristek dan Pemerintah Kabupaten Tanah Laut.



Pelestarian Alam

PTPN XIII juga berkomitmen untuk terlibat aktif di dalam gerakan pelestarian lingkungan. Beberapa program pelestarian alam yang telah dilakukan PTPN XIII adalah penanaman Pohon Trembesi.

Pada tanggal 13 Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan penanaman pohon Trembesi yang merupakan bagian dari gerakan “one man one tree” yang telah digalakkan oleh pemerintah sebelumnya. PTPN XIII melalui program pelestarian alam, telah membagikan bibit pohon Trembesi ke semua wilayah kerja PTPN XIII di Distrik Kalbar 1 dan 2 pada tanggal 31 Agustus 2009.

Pohon Trembesi memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat, dan berdasarkan penelitian Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, satu batang pohon tersebut dapat menyerap 28 ton karbondioksida (CO2) setiap tahun. Pohon ini dipercaya mampu memberikan kontribusi dalam menanggulangi pencemaran udara dan ancaman pemanasan global.

Sengonisasi di lahan seluas 10 ha di Dusun Rasau Karya Desa Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. PTPN XIII meyakini bahwa program sengonisasi ini akan memberikan manfaat ganda bagi masyarakat dan lingkungan karena pohon sengon merupakan pohon yang serba guna.

Daun sengon mampu menyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas dan merupakan sumber pakan ternak yang sangat baik, akarnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen sehingga tanah di sekitar pohon sengon menjadi subur, pohon sengon dapat ditanam di tepi kawasan yang mudah terkena erosi.

Selanjutnya tanah di sekitar areal sengon dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya. Batang kayu sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan.

Bantuan bibit Gaharu, Belian/Ulin dan Mahoni di Dusun Sontas Desa Entikong Kec. Entikong Kab. Sanggau. Pilihan atas pohon gaharu, belian dan mahoni didasarkan atas pertimbangan ekologi dan ekonomi bagi masyarakat.

Bardasarkan sejumlah data, PTPN XIII memprediksi bahwa ke depan kebutuhan gaharu dunia sangat besar. Saat ini, Indonesia yang memiliki jatah quota 300 ton/tahun baru dapat memenuhi 10% dan hanya berasal dari gaharu alam.

Temuan rekayasa produksi kayu gaharu memberi peluang yang sangat besar bagi perkebunan di Indonesia. Penanaman gaharu dapat disisipkan di sela-sela perkebunan karet, ataupun dengan sistem tumpang sari dengan tanaman musiman. (*)




Copyright 2007 © PTPN13