Welcome to PT. Perkebunan Nusantara XIII (Persero) As a Knowledge-Based Agribusiness Company
  DEPAN   KONTAK KAMI  PETA SITUS   
  Profil Perusahaan   Unit Kerja   Produk   Kinerja Komunitas   Penghargaan  
       
Indonesia Akan Alihkan Pasar CPO
Sumber : Bisnis Indonesia
Update : 30 Oktober 2009, Jam : 07:56:41
JAKARTA: Indonesia mengancam akan mengalihkan pasar ekspor crude palm oil (CPO) dari Uni Eropa ke negara lain yang dinilai potensial, jika UE selalu mempersulit masuknya produk sawit.

Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Mangga Barani menyatakan selama ini pemerintah banyak mendapatkan pengaduan dari perusahaan sawit bahwa pemegang sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) tidak juga mendapatkan harga premium di pasar Eropa.

"Perusahaan sawit kita ini banyak yang sudah sustain dan bukan pemain liar. Kalau mereka [Eropa] tetap tidak mau toleransi, kita siap mengalihkan pasar ekspor," tegasnya di Departemen Pertanian kemarin.

Pernyataan ini terkait dengan rencana greenhouse gas working group yang berencana memasukkan ketentuan efek gas rumah kaca dalam ketentuan RSPO.

Sebagian besar pembeli minyak sawit dari Eropa telah menghindari produk kelapa sawit yang ramah lingkungan tetapi mahal, upaya yang menggelincirkan untuk melestarikan hutan hujan World Wildlife Fund (WWF).

Data hasil penelitian WWF, yang dipublikasikan kemarin, menunjukkan hanya 10 dari 59 produsen dan pengecer di Eropa yang mengimpor minyak kelapa sawit dari Produsen di Asia Tenggara yang tidak merasa menghancurkan hutan hujan dan satwa liar. Di antara 10 perusahaan itu adalah Unilever dan Cadbury. (Bisnis, 29 Oktober)

Menurut data WWF, sampai Oktober, kurang dari seperlima dari 1 juta ton minyak kelapa sawit bersertifikat ramah lingkungan telah dibeli, meskipun penyerapan pasar sedang bangkit dalam 4 bulan terakhir.

WWF mengeluarkan data tersebut seminggu sebelum pertemuan Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO) di Kuala Lumpur, Malaysia untuk menilai perkembangan standar hijau untuk pemasok minyak sawit utama dari Indonesia dan Malaysia.

Kebanyakan produsen

Ketua Harian Komisi Minyak Sawit Indonesia Rosediana Suharto menuturkan diberikannya harga premium untuk produk CPO bersertifikat hampir satu hal yang mustahil.

"Bagaimana mungkin akan mendapatkan harga premium jika produsen sawit sangat banyak dibandingkan dengan pembeli. Dengan demikian pembeli tinggal memilih akan mendapatkan pasokan dari mana," ujarnya.

Dia menjelaskan seperti China tidak terlalu peduli apakah mendapatkan pasokan CPO yang bersertifikat atau tidak. Yang jelas, katanya, Negeri Tirai Bambu itu mendapatkan pasokan dengan harga murah.

Rosediana menilai pada dasarnya persyaratan untuk menghasilkan CPO dengan cara yang ramah lingkungan merupakan hal yang positif. Akan tetapi, tudingan pihak RSPO terhadap produk sawit asal Indonesia selalu tidak berdasarkan data yang riil.

"Persyaratan yang diterapkan terhadap produsen selalu berdasarkan kepentingan konsumen. Kepentingan produsen tidak diperhatikan. Ini tidak adil," tegasnya.




Copyright 2007 © PTPN13