JAKARTA: Penurunan permintaan CPO dari India dan berkurangnya aktivitas eksportir saat bulan puasa dan hari raya mendorong pelemahan ekspor pada September, sehingga mencatat kontraksi sebesar 8,58%.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu optimistis dalam sisa 3 bulan [Oktober, November, dan Desember], kinerja ekspor akan kembali membaik seperti tren yang terjadi pada Agustus terhadap bulan-bulan sebelumnya.
"Ekspor September memang melemah karena permintaan dari India sedikit berkurang dan aktivitas bulan puasa hingga hari raya masih sepi. Tetapi menjelang akhir tahun, keadaan kembali membaik, sehingga pada akhir tahun kita perkirakan total ekspor hanya minus 20% sedangkan nonmigas minus 10%-15%," kata Mari kepada wartawan, kemarin.
Volume ekspor nonmigas selama September tahun ini, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), turun sebesar 8,84% atau 3 juta ton menjadi 31,2 juta ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya 34,2 juta ton.
Penurunan volume ekspor juga diikuti penurunan nilai ekspor selama periode itu sebesar 8,58% menjadi US$8,1 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya US$8,9 miliar
Mari menjelaskan kinerja subsektor seperti industri dan pertanian rata-rata masih mengalami penurunan masing-masing sebesar 11% dan 23%. Adapun sektor pertambangan mengalami peningkatan sebesar 3,5%.
"Tentunya ini semua dipengaruhi situasi dan fluktuasi perekonomian global yang kita hadapi. Sektor pertambangan pada Januari-September masih positif, sementara yang lainnya negatif," lanjutnya.
Adapun untuk sektor nonmigas saja, penurunan volume tercatat sebesar minus 6,2% sedangkan nilainya turun hingga minus 15%. Untuk migas penurunan volume 8,1% dan nilai turun hingga minus 50%.
Dari sisi negara tujuan, Mendag menjelaskan sudah ada tanda-tanda pemulihan di beberapa negara. Walaupun pasar utama seperti Eropa dan Amerika belum terlalu pulih, masih ada negara-negara nontradisional lainnya yang mendukung pertumbuhan ekspor Indonesia.
Dia menambahkan dari sisi impor, surplus dari neraca perdagangan naik dua kali lipat. Hal tersebut disebabkan oleh penurunan impor yang jauh lebih besar dari kontraksi ekspor.
Menurut Mari, hal tersebut membuktikan ekonomi Indonesia belum terlalu mengalami pemulihan dan investasi baru mulai bergerak, belum berada dalam kecepatan penuh.
Pengaruh Lebaran
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan Mochtar mengatakan penurunan volume dan nilai ekspor selama September tidak jauh berbeda. Artinya, katanya, harga produk ekspor tidak banyak berubah, sehingga penurunan nilai ekspor disebabkan oleh pengapalan selama bulan tersebut turun.
"Nilai ekspor [September 2009] turun, karena faktor musiman. Ada Lebaran, sehingga banyak libur dan pengapalan produk menurun. Itu terjadi setiap tahun," ujarnya, kemarin.
