JAKARTA: Potensi rawa di Indonesia yang bisa dikembangkan untuk tanaman perkebunan sawit mencapai 3 juta hektare (ha) dari total lahan 28 juta hektare.
Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian Ahmad Mangga Barani mengatakan potensi rawa tersebut akan dikembangkan menjadi perkebunan sawit yang diharapkan bisa mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
"Kalau kita dilarang menanam sawit di lahan rawa, bagaimana dengan nasib warga yang hidup di sekitarnya, apakah tidak boleh mereka menikmati kehidupan lebih sejahtera" katanya yang tengah berada di Banjarmasin, pekan lalu.
Dia mengatakan banyak protes yang disampaikan LSM, kelompok masyarakat tertentu baik dari dalam maupun luar negeri tentang alih fungsi rawa menjadi perkebunan sawit. Protes tersebut tidak akan menyurutkan langkahnya untuk tetap memanfaatkan potensi alam yang melimpah tersebut sebagai lahan perkebunan sawit dengan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Menurut dia, dalam penetapan kebijakan pengembangan perkebunan ataupun lainnya, pihaknya selalu melakukan kajian tentang segala kemungkinan yang terjadi. "Kalau negara tetangga mengkhawatirkan tentang bencana yang ditimbulkan akibat alih fungsi rawa, kita jauh lebih khawatir karena kita yang berhadapan langsung," katanya.
"Karena itu, kami akan sangat hati-hati dan telah melakukan perhitungan matang untuk melaksanakan program tersebut," ujarnya.
Menurut Mangga Barani, dari potensi rawa di Indonesia yang mencapai 28 juta hektare, hanya 3 juta hektare yang memenuhi syarat untuk dijadikan perkebunan sawit. Syarat-syarat tersebut yaitu kedalaman gambut tidak lebih dari 3 meter, gambut harus matang dan mempunyai tingkat kesuburan tinggi.
Nomor satu
Sementara itu, luas total lahan rawa lebak di Kalimantan Selatan sekitar 208.893 ha dan yang telah difungsikan untuk tanaman pangan hanya seluas 78.544 ha.
Mangga mengakui Indonesia kini menjadi produsen sawit terbesar dunia mengalahkan Malaysia, Bangkok, Thailand, dan beberapa negara pertanian lainnya. Dalam 5 tahun terakhir, pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 5 juta hektare dari potensi yang dicadangkan 19,7 juta hektare atau jauh lebih luas dibandingkan dengan Malaysia yang tersisa 4,6 juta hektare. "Sebelumnya, Malaysia dikenal sebagai negara produsen sawit terbesar, tetapi kini lahannya telah habis dan posisinya kita gantikan," katanya.
Bahkan, kata dia, kini Malaysia juga melakukan penanaman di Indonesia. Adapun beberapa negara lainnya seperti Thailand hanya tersisa 200.000-500.000 hektare.
Perkembangan sawit yang cukup pesat di Indonesia, kata dia, didukung oleh kondisi lahan dan iklim yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman bahan baku minyak goreng tersebut. "Hal tersebut yang menjadi keprihatinan beberapa negara Internasional, karena kita sudah hebat," kata Mangga Barani.
Menurut dia, banyaknya aksi protes terhadap penanaman sawit di Indonesia karena mereka tidak ingin negara ini maju perkebunannya.
Dia memastikan pengembangan kelapa sawit di Indonesia, tidak akan merusak alam atau lingkungan seperti yang didengung-dengungkan beberapa pihak, karena pengelolaannya juga sangat memperhatikan lingkungan.
"Katanya sawit akan membuat pendangkalan sungai lebih cepat, bisa mengakibatkan banjir dan lainnya, tetapi asalkan dikelola dengan baik dan benar hal tersebut tidak akan terjadi," katanya.
Indonesia, kata dia, kebetulan berada pada 15 derajat lintang utara dan lintang selatan khatulistiwa, posisi tersebut sangat menguntungkan bagi tumbuh dan berkembangnya tanaman sawit.
