Welcome to PT. Perkebunan Nusantara XIII (Persero) As a Knowledge-Based Agribusiness Company
  DEPAN   KONTAK KAMI  PETA SITUS   
  Profil Perusahaan   Unit Kerja   Produk   Kinerja Komunitas   Penghargaan  
       
Volume Ekspor Sawit Diprediksi Naik
Sumber : Bisnis Indonesia
Update : 1 Februari 2010, Jam : 10:51:26
JAKARTA: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan ekspor CPO dan turunannya selama tahun ini akan meningkat menjadi 18 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu 15,5 juta ton.

Data Gapki menunjukkan volume ekspor CPO dan turunannya selama 2009 mencapai 15,5 juta ton dengan perincian dalam bentuk CPO sebanyak 8,8 juta ton dan produk turunannya sebanyak 6,7 juta ton.

"Pada 2009, angka perdagangan ekspor [minyak sawit] terus meningkat dari kuartal I hingga kuartal IV," ujar Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan, belum lama ini.

Menurut dia, volume ekspor tertinggi sepanjang tahun lalu terjadi pada kuartal terakhir mencapai 4,1 juta ton yang disebabkan oleh adanya perayaan hari besar agama seperti Iduladha, Natal, serta tahun baru.

Kendati secara volume naik, nilai ekspor terjadi penurunan. Sekjen Gapki Joko Supriyono mengatakan faktor turunnya harga CPO pada awal 2009 mengakibatkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia terkoreksi cukup signifikan.

Menurut dia, penurunan nilai disebabkan pergerakan harga CPO pada 2009 lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Nilai ekspor sawit dan produk turunannya pada tahun lalu hanya US$10 miliar lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$15,58 miliar.

Joko memperkirakan sepanjang tahun ini harga CPO akan mengalami kenaikan setidaknya hingga kuartal I dengan kisaran US$800-US$850 per ton.

Permintaan dunia terhadap minyak sawit, lanjutnya, akan meningkat lebih tajam, sehingga berdampak positif kepada peningkatan volume ekspor CPO Indonesia yang diperkirakan mencapai 18 juta ton pada 2010.

Wakil Ketua Umum Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Kadin Indonesia Franky O. Widjaja mengatakan saat ini ekspor produk turunan CPO masih kecil dan sebagian besar dikapalkan ke luar negeri dalam bentuk CPO yang belum diolah.

"Akan lebih mudah untuk mengolah menjadi produk turunan seperti oleokimia dibandingkan dengan menanam yang butuh waktu lebih lama lagi, sehingga volume ekspor sawit yang telah diolah akan meningkat," ujarnya.

Dia mendorong industri untuk mengolah minyak sawit di dalam negeri guna memberikan nilai tambah dengan memperbanyak downstream menjadi oleokimia. Jika diolah terlebih dahulu, katanya, harga akan naik menjadi lebih mahal serta memberikan nilai tambah di dalam negeri.

Pada Februari ini tarif bea keluar ditetapkan sebesar 3% untuk ekspor minyak sawit mentah atau sama seperti tarif yang berlaku pada bulan sebelumnya, menyusul rata-rata harga komoditas tersebut selama sebulan sebelumnya di CIF Rotterdam sebesar US$795,84 per ton.

Stop perluasan lahan

Di tempat terpisah, Aliansi Desa Sejahtera (ADS) meminta agar pemerintah tidak memperbolehkan industri besar terus melakukan perluasan lahan sawit, karena banyak biaya kerugian yang ditanggung masyarakat perdesaan.

Ketua Pokja Sawit ADS Abetnego P. Tarigan mengatakan peningkatan produksi sawit tidak perlu dengan melakukan perluasan lahan dengan merusak hutan, tetapi dengan meningkatkan produktivitas sawit, karena selama ini produktivitasnya di dalam negeri lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia.

"Ke depan industri perkebunan yang mendominasi lahan sawit perlu melibatkan peran rakyat setempat dan tidak perlu untuk melakukan ekspansi lahan tetapi cukup dengan meningkatkan produktivitas," ujarnya.




Copyright 2007 © PTPN13