Welcome to PT. Perkebunan Nusantara XIII (Persero) As a Knowledge-Based Agribusiness Company
  DEPAN   KONTAK KAMI  PETA SITUS   
  Profil Perusahaan   Unit Kerja   Produk   Kinerja Komunitas   Penghargaan  
       
Pengusaha Sawit RI-Malaysia Kolaborasi Lawan Kampanye Hitam
Sumber : detik
Update : 6 Maret 2010, Jam : 11:32:01
Jakarta - Sebanyak enam asosiasi pengusaha kelapa sawit Indonesia-Malaysia yaitu GAPKI, Apkasindo, MPOA, SOPPOA, FELDA dan APIMI sepakat berkolaborasi membentuk forum kerjasama sesama produsen sawit dalam rangka suistainable palm oil.

Kerjasama ini bertujuan untuk menangani isu-isu terkait sektor sawit seperti isu gas rumah kaca, lahan gambut, perluasan lahan dan restriksi area kelapa sawit yang selama ini selalu menjadi batu sandungan para pengusaha kedua negara karena adanya tuduhan-tuduhan miring oleh banyak pihak termasuk NGO-NGO internasional maupun lokal.

Ketua Malaysia Palm Oil Association (MPOA) Dato Mamat Salleh dengan tegas mengatakan pembentukan forum bersama ini menjadi sarana posisi tawar yang kuat bagi Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi masalah-masalah persawitan terutama dalam menghadapi kampanye hitam (black campaign).

"Ini bisa sebagai posisi tawar kita, yang saya yakini akan ampuh," katanya dalam acara penandatanganan Memorandum of Collaboration (MoC) antara 6 asosiasi sawit Indonesia dengan Malaysia di Hotel Shangrila, Jakarta, Jumat malam (5/3/2010).

Acara kesepakatan ini juga dihadiri oleh Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Tan Sri Bernard Dompok dan Menteri Pertanian Indonesia Suswono dan para pengusaha sawit Malaysia dan Indonesia.

Ia menjelaskan dalam keanggotaan Roundtable Sustainable on Pal Oil (RSPO) yang terdiri dari kalangan produsen sawit, NGO, konsumen pengguna dan lain-lain. Pihak produsen sawit kerap kali mendapat tekanan terutama yang menyangkut isu lingkungan dalam pengolahan produk sawit oleh para anggota RSPO lainnya.

Mamat Salleh mengharapkan setelah terbentuk forum kerjasama ini, Indonesia dan Malaysia memiliki kekuatan bersama, mengingat 85% pangsa pasar sawit dunia dipegang oleh kedua negara serumpun tersebut.

"Kerjasamama ini juga bermanfaat untuk berbagi pengetahuan tentang pengembangan pasar dan usaha bersama dalam promosi kampanye positif soal sustainable palm oil di dunia internasional," jelas Ketua Umum Gapki Joefly Bachroeny di tempat yang sama.

Selama ini Indonesia dan Malaysia merupakan anggota Roundtable Sustainable on Pal Oil (RSPO) yang merupakan prasyarat bagi Uni Eropa terhadap produsen sawit ketika akan memasukan produk-produk sawit ke wilayah tersebut.

Namun faktanya forum RSPO dianggap tidak adil oleh para pengusaha sawit karena dalam kasus-kasus tudingan perusakan lingkungan seringkali dilakukan sepihak oleh para NGO bidang lingkungan.

Kasus yang masih hangat dialami oleh Indonesia adalah produk sawit Sinar Mas (Smart) yang dihentikan kontraknya secara sepihak oleh Unilever Eropa karena mendapat laporan Green Peace soal tudingan perusakan hutan dalam membuka lahan sawit oleh Smart. Selain itu, Unilever juga telah mendaftarhitamkan produsen CPO asal Indonesia Duta Palma beberapa pekan lalu.




Copyright 2007 © PTPN13