PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Bibit Kelapa Sawit

14 November 2017 - 16:36:45 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 59

Pertumbuhan Melambat, Utilitas Terpakai Industri Benih Sawit hanya 63%

14 November 2017  | Administrator img

InfoSAWIT, JAKARTA - Dalam lima tahun terakhir pertumbuhan luasan areal perkebunan kelapa sawit nasional terus menurun. Jika di tahun 2012 pertumbuhan areal baru perkebunan kelapa sawit masih mencapai 12,4%, maka di tahun 2016 melorot menjadi tumbuh hanya sekitar 3,1%.

Melambatnya pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit ini, jelas berdampak pada seluruh industri input-nya, termasuk didalamnya adalah industri benih sawit unggul. Semenjak 2012 lalu penurunan permintaan benih sawit terus terjadi. Merujuk informasi dari Direktorat Perbenihan, Kementerian Pertanian, pasar benih sawit unggul terus menurun. Jika di tahun 2012 pasar benih sawit yang terserap pasar mencapai 171 juta butir benih, di 2016 lalu hanya sekitar 89,2 juta butir benih sawit.

Dengan demikian bila kapasitas terpasang produksi benih sawit nasional mencapai sekitar 240 juta lebih, maka utilitas yang terpakai hanya mencapai sekitar 63% saja. Kondisi ini jelas semakin menekan industri benih sawit nasional.

Sementara itu, penurunan penyerapan pasar benih sawit nasional setiap tahunnya tercatat cukup tinggi. Sepanjang periode 2012 sampai 2015 rata-rata penurunan pasar benih sawit mencapai 24,3%, atau terdapat penurunan permintaan rata-rata sekitar 2o juta butir benih sawit per tahun.

Kendati demikian kondisi berbeda justru terjadi di 2016.  Pada tahun itu penyerapan benih sawit di pasar Indonesia terdapat kenaikan sekitar 17%. Ini merupakan kenaikan permintaan benih sawit untuk pertama kalinya semenjak tahun 2012 lalu.

Head of Production and  Biotechnoogy Division, PT SMART Tbk., Tony Liwang mengatakan, penurunan pasar benih sawit lebih banyak dipengaruhi oleh penanaman kelapa sawit di lahan baru yang semakin sedikit.

Selain itu, imbas dari program peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat yang belum optimal dan tidak sesuai harapan, yang digagas oleh pemerintah lewat pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit di tahun 2016 lalu. “Tahun lalu replantingnyaris sangat sedikit, padahal itu harapan kita,” katanya kepada InfoSAWIT belum lama ini di Jakarta.

Penyerapan benih sawit pada periode 2012-2016 tercatat lebih rendah dari permintaan benih sawit pada tahun 2008 lalu. Dengan kapasitas produksi mencapai 170,6 juta butir, permintaan justru melebihi dari kapasitas produksi. Ini menjadi alasan, kran impor benih sawit dibuka waktu itu. Pada saat itu juga produsen benih sawit baru ada sebanyak 8 perusahaan.

Peningkatan penyerapan benih sawit di pasar pun terus berlanjut. Pada tahun 2009 dan 2010 terjadi peningkatan kapasitas produksi benih sawit yang masing-masing mencapai 215 juta butir dan 234 juta butir benih sawit dibarengi dengan bertambahnya produsen benih menjadi 10 perusahaan.

Ketua Forum Kerjasama Produsen Benih Sawit Indonesia, Dwi Asmono, mengatakan, kala itu tren peningkatan itu telah disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional. Namun tetap memerhatikan kualitas dan melalui proses pengujian, termasuk mengikuti seluruh regulasi terkait pengembangan varietas bahan tanaman.

Namun sayangnya, penyerapan benih sawit itu mulai terlihat melambat di 2011. Rencana produksi benih sawit nasional kala itu pun disesuaikan dan diturunkan menjadi 233,2 juta butir, dengan penyerapan pasar benih sawit sebanyak 146,3 juta butir.

Menurunnya permintaan benih sawit itu ditengarai sejalan dengan terbitnya kebijakan moratorium pembukaan lahan gambut dan hutan primer yang diberlakukan secara resmi pada pertengahan tahun 2011. Inilah yang menjadi awal terus melorotnya permintaan benih sawit, kendati ditengarai ada faktor lainnya. (T2)

Sumber : http://www.infosawit.com/news/7247/pertumbuhan-melambat--utilitas-terpakai-industri-benih-sawit-hanya-63-



Berita : Terkait